Bile Refluks: Penyebab, Ciri-ciri dan Pengobatan

Sekedar sharing mengenai bile reflux yang dirangkum dari beberapa buku dan jurnal kedokteran gastro.

REFLUX EMPEDU (BILE REFLUX)
refluks empedu

Empedu adalah cairan yang dibuat di hati yang berfungsi untuk mencerna lemak dan menghilangkan toksin tertentu. Empedu mengalir dari hati melalui saluran empedu menuju ke kantung empedu untuk disimpan dan dipekatkan. Bila makanan yang kita makan mengandung lemak walaupun hanya dalam jumlah sedikit, empedu akan dikeluarkan secara otomatis kedalam usus 12 jari (duodenum) melalui kontraksi otot dan relaksasi sfingter oddi akibat dari rangsangan makanan yang sudah halus (kimus) yang berasal dari lambung dan masuk melalui sfingter pilorus. Sfingter oddi adalah katup yg membatasi saluran utama empedu dgn duodenum. Sfingter pilorus adalah katup yg membatasi lambung dgn duodenum. Lemak yang terdapat pada makanan juga merangsang kontraksi sfingter oddi atas pengaruh hormon yg disebut kolesistokinin.

Apa itu Bile refluks?

Bile reflux adalah kondisi terjadinya aliran balik empedu dari duodenum ke lambung. Bile reflux ini, bila bercampur dengan isi lambung yang asam akan memperparah kondisi refluks gastroesofagus bagi penderita gerd. Bile reflux ini adalah faktor penyulit buat gerd. Umumnya penderita gerd yang dibarengi dengan bile reflux akan merasakan sensasi yang lebih berat daripada penderita gerd saja dan bisa menciptakan kondisi yang lebih beresiko buat esofagus.

Bile reflux terjadi karena adanya kesalahan fungsi kerja atau melemahnya otot sfingter pilorus. Penyebab sebenarnya dar bile reflux ini masih belum diketahui pasti dan masih jadi perdebatan para ahli. Normalnya, sfingter pilorus akan membuka sedikit, sekitar 3 mm untuk melewatkan kimus dari lambung menuju duodenum untuk kemudian diteruskan ke usus halus. Relaksasi otot sfingter pilorus ini utamanya terjadi karena pengaruh aktifitas listrik otot polos sfingter tersebut dan dirangsang oleh tekanan kuat dari gerak peristaltik antrum lambung. Gerak peristaltik lambung adalah gerakan bergelombang dinding lambung untuk menurunkan makanan ke arah duodenum yang dimulai dari gerak peristaltik area fundus (atas), corpus (tengah/badan), antrum (bawah) dan pilorus yg rata2nya terjadi sekitar 3 kali permenit. Normalnya, sudah kimus dilewatkan, sfingter pilorus akan menutup kembali dan menjadi area bertekanan tinggi sebelum kembali terjadi pembukaan berikutnya.

Karena sesuatu hal, sfingter pilorus ini tidak mau menutup sempurna (terjadi gapping) ato terjadi gangguan ato kesalahan harmonisasi gerakan dengan lambung sehingga isi duodenum yang juga terdapat empedu di dalamnya, bisa refluks atau masuk kedalam lambung. Refluks empedu kedalam lambung yang terjadi dalam frekwensi yang sering dan lama, bisa merusak mukosa lambung dan akhirnya bisa menimbulkan gastritis atau gastropati refluks empedu. Bagian pertama yang sering terserang gastritis refluks empedu adalah bagian antrum lambung tapi bisa juga akhirnya menyerang seluruh bagian lambung. Bila refluks empedu terjadi berbarengan dengan refluks gastroesofagus, resiko kerusakan yang terjadi di esofagus jad tambah besar.

Faktor Penyebab Bile refluks

Faktor resiko yg menyebabkan refluks empedu adalah sehabis melakukan gastrektomi parsial (operasi bagian lambung), operasi pengangkatan kandung empedu, operasi yang dilakukan di area sfingter pilorus yg menyebabkan terjadinya rangsangan yang terus menerus pada duodenum. Tukak peptik yang mengenai area sekitar sfingter pilorus juga dikatakan sebagai salah satu faktor resiko buat terjadinya bile reflux. Namun bile reflux ini bisa juga terjadi pada orang yang sama sekali tidak punya riwayat operasi di area yang disebutkan di atas.

Salah satu cara yg akurat untuk mendiagnosa bile reflux adalah dengan endoskopi saluran cerna bagian atas. Dari pengamatan endoskopi, biasanya terlihat mukosa lambung yang membengkak, kemerahan, erosi dan adanya pewarnaan empedu. Selain itu, untuk memastikan apakah bahan refluksnya berupa gabungan asam lambung dan empedu ataupun murni asam lambung saja, bisa dilakukan test tambahan seperti test pH esofagus 24 jam.

Ciri-Ciri Bile Reflux

  • Nyeri perut ato dada.
  • Nyeri perut setelah mkn
  • Mual ato muntah
  • Mudah kenyang

Ciri-ciri bile refluks yang disertai refluks gastroesofagus

  • Heartburn yg kronis
  • Regurgitasi ato kembalinya isi lambung ke esofagus dan mulut.
  • Nyeri perut bagian atas ato nyeri uluhati.
  • Hilang napsu mkn
  • Hilang berat badan tanpa sebab yg jelas
  • Batuk kronis
  • Radang tenggorokan atas.

Dari ciri-ciri diatas, terlihat bahwa ciri-cirinya mirip dengan refluks gastroesofagus pada penyakit gerd atau lpr, tapi biasanya terasa dengan sensasi yang lebih berat.

Sampai saat ini, penanganan medis buat penderita bile reflux adalah sbb,

Pengobatan Bile reflux

1. Dengan obat-obatan

Obat prokinetik atau obat yang mempercepat gerakan saluran cerna dan mempercepat waktu pengosongan lambung sekaligus menaikkan tekanan atau memperkuat otot sfingter seperti domperidone, metoclopramide, cisapride, dll. Obat ini juga merupakan obat anti mual dan muntah.
Kolestiramin, yaitu obat yang biasa digunakan untuk menurunkan kadar kolestrol dalam darah.
Sukralfat, yaitu obat yang melindungi mukosa lambung dari cairan empedu yang masuk ke lambung.
PPI. Untuk kondisi dimana refluks yg terjadi sudah mencapai esofagus (gerd), biasanya juga akan diberikan ppi untuk mengurangi cedera akibat refluks gastroesofagus.

2. Dengan operasi gastrojejunostomi Roux en Y

Tindakan operasi diperlukan untuk kasus bile reflux yang parah, terutama yang sudah memperparah kondisi gerd dan beresiko menimbulkan keganasan atau kanker di esofagus. Operasi ini adalah operasi yang bertujuan untuk mengalihkan jalur keluaran sekresi pankreas dan empedu dari tempatnya semula untuk dibuatkan jalur baru yg muaranya jauh dari area pilorus lambung untuk mengurangi atau mencegah bile reflux. Data angka keberhasilan operasi ini dalam mencegah bile reflux cukup tinggi.

3. Dengan operasi fundoplikasi

Operasi ini diperlukan buat penderita gerd yang disebabkan oleh bile reflux. Operasi ini bersifat optional/additional saja terutama buat yg esofagusnya sudah cedera karena bile reflux.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh penderita bile reflux yang pada dasarnya mirip dengan penderita gerd adalah sebagai berikut:


  • Hindari makan makanan berlemak karena maknan berlemak akan merangsang produksi empedu lebih banyak sehingga bisa memperbesar kemungkinan terjadinya bile reflux. Makanan berlemak juga susah dicerna lambung sehingga memperpanjang waktu pengosongan lambung, suatu hal yang harus benar-benar dihindari oleh penderita bile reflux.
  • Hindari makan makanan yang susah dicerna.
  • Kunyahlah makanan sehalus mungkin, dianjurkan lebih dari 30 x kunyahan sebelum ditelan. Makanan yang halus tentu lebih gampang diolah lambung sehingga waktu pengosongan lambung jadi lebih cepat.
  • Biasakan makan dalam porsi yang sedikit tapi frekwensinya ditambah. Juga hindari waktu makan yang mendekati waktu tidur. Tinggikan posisi kepala dan dada ketika tidur.
  • Intinya, harus kontrol makan.
  • Pemakaian obat penghambat atau penetral asam lambung seperti ppi, arh2 dan antasida masih menjadi perdebatan oleh para ahli medis mengenai efektifitasnya pada bile reflux mengingat obat-obat tersebut berefek bisa memperpanjang waktu pengososngan lambung karena bisa menghambat proses pencernaan di lambung karena kekurangan asam lambung. Pemakaian obat-obat jenis ini dirasa diperlukan jika si penderita juga menderita cedera lambung akibat bile refluks atau kondisi refluks yang sudah sampe esofagus.
  • Makanlah makanan yang bergizi terutama perhatikan asupan protein karena protein berperan besar dalam mengencangkan otot sfingter.
  • Faktor psikososial juga sangat berpengaruh bagi penderita bile reflux, jadi usahakan agar hati selalu gembira dan pandai-pandailah memanage stress.
  • Rutinlah berolahraga 3 ato 4 kali seminggu dengan durasi 30 menit sampe 1 jam setiap sesi, karena olah raga rutin bisa menguatkan kondisi otot termasuk otot-otot polos seperti otot-otot sfingter. Olah raga lah sesuai kemampuan kita. Pilih olah raga yang aman seperti joging ringan, jalan cepat, sepedaan, renang, senam, dll.
  • Jangan lupa untuk tetap optimis dan selalu berdoa buat kesembuhan diri.

Demikian dan semoga bermanfaat.

0 komentar